Dua hari sudah setelah pertemuanku dengan Sean Andrews. Aku memang tidak tahu apa-apa tentang dia, tetapi aku percaya padanya. Lalu untuk apa dia meminjamkan kameranya padaku? Itu sebagai buktinya dia akan memegang janjinya padaku. Meskipun ia meminjamkan kameranya padaku, tetapi aku sama sekali tak pernah memakainya, atau bahkan membukanya, aku tak berani.
Hari ini, di hari Rabu yang cerah, di taman yang indah, kami akan bertemu lagi. Aku tidak tahu apakah ini akan menjadi hari terakhir bagiku untuk bertemu dengannya. Karena aku ingin sekali mengenalnya, aku ingin berteman dengannya. Mungkinkah takdir ini membawaku? Let’s see!
Saat itu, kami berjanji akan bertemu pukul 11 di tempat kami duduk dekat kolam di bawah pohon hijau berbunga merah. Oh ya, aku jadi teringat bunga merah besar yang waktu itu terjatuh dihadapanku. Aku menyimpannya di saku cardiganku, wah mungkin sekarang dia sudah layu. Padahal sangat indah, tapi aku masih bisa melihatnya lagi hari ini.
Entah mengapa, aku ingin sekali berdandan cantik hari ini. Apakah karena aku akan bertemu Sean, bule yang tidak sengaja baru kutemui itu? Jujur saja, aku menyukai senyumannya, cara dia berbicara, dan cara dia memandang. Tapi aku berpakaian seperti biasanya saja, karena aku tidak membawa banyak baju kemari. Hanya kugeraikan saja rambutku dan kupakaikan bandana oranye di kepalaku, agar serasi dengan bajuku yang berwarna oranye ceria.
Hari ini, Tante Santy tidak mengajar, tadinya dia ingin menemaniku, tapi aku menolaknya halus. Aku beralasan, karena aku sudah dewasa dan aku akan baik-baik saja. Angin siang sepoi-sepoi membelai lembut rambutku yang lurus. Aku mulai berjalan menuju Zuiderpark dengan hati yang gugup. Aku sudah membawa kamera milik Sean untuk kutukar dengan milikku.
***

No comments:
Post a Comment