Monday, November 15, 2010

Under the Summer Sunshine

Aku berjalan sepanjang jalan besar ini. Aku sangat menikmati pemandangan disini, berbeda sekali dengan pemandangan di Bandung. Aku berjalan di trotoar besar. Jalanan disini tidak terlalu padat, meskipun banyak kendaraan berlalu-lalang. Pohon-pohon rindang berdiri sepanjang jalan ini, membuat suasana menjadi sejuk dan segar. Sinar matahari masuk melalui celah-celah dedaunan. Segar sekali rasanya!!!
Taman Zuider tak jauh lagi dari tempatku berada. Aku tidak merasa lelah sama sekali, mungkin karena pemandangan disini yang membuatku bersemangat. Suasana hijau segar telah tersaji di depan mataku. Pohon-pohon besar yang rindang dan hijau memenuhi taman itu. Banyak pula macam-macam tumbuhan yang lainnya.
Aku memasuki taman itu sambil terkagum-kagum. Memang tak banyak orang di taman itu. Hanya beberapa lansia dan juga pemuda-pemuda yang berolahraga. Kulihat banyak sekali skulptur-skulptur unik, tak jelas berbentuk apa, tapi ada pula yang berbentuk seperti manusia. Ada dinding-dinding taman yang dipenuhi relief yang juga unik. Aku mengambil gambar dari skulptur unik itu. Aku juga mengambil beberapa gambar pemandangan disana. Kursi taman kayu yang berada di bawah pohon terlihat sangat indah. Ada juga beberapa kolam besar dengan air mancur. Bermacam-macam bunga tersaji dimana-mana. Aku duduk di sebuah kursi taman di bawah pohon besar. Aku memperhatikan gamar-gambar apa saja yang telah kuambil. Lumayan juga hasilnya. Sebuah bunga jatuh melewati wajahku. Bunga merah yang masih segar terjatuh dihadapanku. Kuambil saja bunga itu, karena terlihat sangat indah. Aku tersenyum sendiri. Aku merasa sesuatu yang baik akan terjadi padaku hari ini. Tapi perasaanku sangat aneh kali ini. Ada apa ya?
Aku terlalu asyik dengan pemandangan ini, hingga aku tak sengaja menubruk seseorang ketika aku sedang berjalan mundur dan pandanganku tertuju pada langit yang biru cerah. Dan kamera yang kupegang pun terjatuh cukup keras jauh dari tempatku berada. Waduh, gawat!!! Aku pun ikut terjatuh. Dasar ceroboh!
Seorang pria muda bule menolongku untuk berdiri. Aku juga tak sengaja menubruknya, tapi dia tidak terjatuh. Mungkin karena pria, jadi dia bisa menahan tubuhnya. Tangannya diulurkan padaku, terpaksa aku menerima uluran tangannya.
Seketika aku teringat pada kameraku yang terjatuh. Aku langsung mengambil dan memeriksanya. Ternyata, kameraku tak bisa menyala. Kuperiksa baterainya, lalu kunyalakan ulang, tetap tak bisa menyala. Aku jadi merasa menyesal. Kamera ini satu-satunya harta yang kupunya untuk menjadi kenang-kenangan disini. Ahh...baru saja hari pertama! Tapi ini juga salahku, aku terlalu asyik berjalan sehingga aku tak memperhatikan keadaan disekitarku.
Ekspresi di wajahku mungkin menunjukkan jelas kekecewaanku. Pria itu kemudian meminta maaf padaku. Ia berbicara dalam bahasa Belanda. Aku tak mengerti ucapannya.
“I’m sorry. I couldn’t understand what you’ve said!” kataku padanya.
“Umm…ok, maybe I can help you to repair your camera!” katanya kemudian.
Ahh, syukurlah dia bisa berbahasa Inggris. Kemudian, kami duduk di kursi taman di dekat kolam. Ia kemudian memeriksa keadaan kamera milikku dengan teliti. Aku tidak tahu apa yang rusak dari kameraku, meskipun tak ada satu pun cacat di kameraku. Mungkin dari dalamnya yang tidak beres. Aku tidak mengerti.
”It couldn’t be repaired soon. It needs time, maybe one to three days to repair it.” Katanya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, aku hanya ingin kameraku berfungsi lagi.
”So, what next?” tanyanya.
”Where could I find to repair it?” tanyaku.
“I will repair it. I can do that. But I need time. Maybe you can use my camera as changer. How?”
Apakah boleh? Tapi…aduh, aku bingung. Aku baru saja mengenalinya. Mungkinkah aku mempercayainya begitu saja? Tapi aku bisa melihat dari wajahnya yang tulus.
Pria itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. ”Hmm...I don’t know!”
“I’m sorry, it was because my fault, so your camera is damaged. So, I would repair it for you. And you can use my camera for a while until your camera finished to be repaired.” Jelasnya, sedikit membuatku percaya padanya.
“Umm, well! But, is it okay?”
“Yeah, of course. Believe me, use my camera! We can meet again in 2 days later. But I’ll try to repair it as soon as possible!”
“But, how do we meet again? I mean, we’ve just met and even I don’t know you!”
“Well, first, let me introduce myself!” katanya. Aku mengangguk.
“My name is Sean Andrews. Actually, I’m not living here; I just try to get my dream here. But, I already know about this town. I live at the hotel around here, it isn’t far from here. And we may meet again here. So, how is you?” katanya balik bertanya.
“My name is Arvina Vellicia. I’m a tourist here, I live in my aunt’s house which is not far from here.” Kataku singkat.
Sean tersenyum padaku. Senyumnya membuatku tenang, hatiku berdebar. Baru kusadari, dia tampan sekali. Hatiku mulai berdebar.
”Well, take my camera! And I will return your camera as soon as possible. We’ll meet again in this place in two days. You get it?”
“Yes, I get it! I believe you!”
Dia tersenyum lagi, hatiku jadi semakin berdebar. 


***

No comments:

Post a Comment

Pages