Wednesday, November 17, 2010

Unpredictable Request

Kulihat sosok pria tampan itu, duduk sendiri sambil mengambil beberapa gambar di taman. Ia kemudian mengarahkan kameranya padaku. Seketika aku terkejut, aku merasa salah tingkah. Aku hanya menunjukkan senyumku padanya. Sean sudah menungguku, dia sangat tepat waktu.
          ”Hi, are you waiting too long?” tanyaku sambil duduk di sebelahnya.      “No, I’ve just arrived about 15 minutes ago. It’s okay!”
          “I’m sorry!”
          “It’s fine! Here’s your camera, I’ve repaired it!”
          “Oh, thank you very much, Sean! But how can I repay for it? I don’t have much money!” kataku berterima kasih banyak padanya.
          “No, you don’t need to repay it. Umm…..but maybe you need!” katanya sambil memikirkan sesuatu.
          Wah…aku jadi khawatir, aku tak punya banyak uang untuk membayar kerusakan pada kameraku, apalagi ini bukan di Indonesia. Bagaimana ini?
          “How if we get together today?” tanyanya mengejutkanku.
          “Excuse me?” tanyaku tidak percaya.
          “Would you walk with me today?”
          Aku terdiam seketika. Hatiku berdebar. Mungkinkah ini mimpi?
          ”Hmm....ya! Okay!” jawabku akhirnya.
          Masih sedikit tidak percaya, dia mengajakku berjalan di sekitar taman sambil berfoto-foto. Dia telah memiliki kameranya, begitu pula denganku.
          Sean menyuruhku untuk berpose di dekat skulptur-skulptur itu. Ya sudah, aku pun bergaya sesukaku di depannya. Dia sering memperlihatkan senyumannya yang kusuka ketika pertama kali bertemu dengannya. Beberapa kali kami bergantian mengambil gambar kami masing-masing atau kami berdua. Hingga akhirnya, rasa lelah itu terasa. Kami duduk di atas rerumputan hijau di bawah pohon yang rindang. Kali ini, pohon itu memiliki bunga berwarna pink. Bunganya lebih indah dibanding bunga merah itu. Disekeliling pohon itu, bunga-bunga itu jatuh berserakan. Kami menyandarkan tubuh kami ke batang pohon yang cukup besar itu. Sungguh terasa nyaman, angin berhembus sepoi di siang hari yang cerah ini, ditambah udara segar dari pohon yang memberikan oksigennya pada kami.
          ”Where are you from?” tanya Sean.
          “I’m from Indonesia. What about you?”
          “I’m from North England.”
          “Wow! Cool! I always want to go there! I wish I could!” kataku yang selalu bermimpi pergi ke Inggris. Aku memang sangat ingin pergi kesana.
          ”Come with me!” katanya tertawa.
          “Are you sure?”
          “Of course! Everybody has a chance to get there, and so you do!” katanya membuka harapanku. Aku tertawa.
          “Sean! May I ask you something?” tanyaku padanya, ada sesuatu yang sangat ingin kutanyakan padanya.
          “What is that?”
          “You said that you’ve been here to get your dream. What is that?” tanyaku gugup, khawatir ini terlalu pribadi untuknya.
          Sean terdiam sejenak. Kemudian, ia tersenyum padaku.
          “Yeah, I’m really closed to my dream now! It’s really my dream, my long long dream. I’ve been here because I want to open my chance to be an actor.” Jawabnya.
          “Actor?” tanyaku tidak percaya.
          “Yes, to be an actor is my dream, since long ago. I always want it! And in this land, it could be the oppurtinity for me. For you maybe also!” katanya mengagetkanku.
          “What? It’s impossible! I couldn’t act well.”
          “Do you ever try?”
          “No, I mean, It’s difficult!”
          “It’s very simple. You also do acting when you live! Why don’t you try?”
          “Ahh…it’s impossible!”
          “There is no impossible in this world, everything could be happen, because there is God! Right?”
          “Yeah, you’re right!”
          “So, we can go together tomorrow! We’ll go to a theatre which is not far from here, and we’ll show our acting skill in front of them! I believe we can!” katanya yakin. Tapi aku ragu, sangat ragu. Aku tak pernah berakting sebelumnya. Tidak juga sih, aku pernah berdrama di kampusku. Dan aku mendapat apresiasi besar dari teman-temanku dan juga dosenku. Well, itu dulu, setahun yang lalu, bagaimana dengan sekarang? Aku tak percaya Sean akan mengajakku.
          ”But I’m afraid, I can’t!”
          “Why don’t you try just once! Maybe there is a way for you. Who knows? Only God knows! Please, I wish you could! We’ll do together!”
          Oh My God! Kata-kata dia membuat hatiku mencair. Mungkin dia memang benar. Siapa yang tahu tentang takdirku, hanya Tuhan yang tahu. Jika memang aku berusaha dan memang ditakdirkan untuk itu, why don’t I try? Jika memang gagal, biarlah itu menjadi pelajaran yang sangat berharga di hidupku.
          Aku memandang wajahnya yang penuh harap padaku. Aku tersenyum padanya. “Okay, I’ll try!” jawabku akhirnya.
          Wajahnya yang penuh harap, kali ini berubah menjadi ceria. Sean merangkulku seketika. Itu membuatku terkejut sekaligus nyaman berada di dekatnya. Apakah ini jalan takdirku untuk bisa bersamanya?
***

          

No comments:

Post a Comment

Pages