Ah…akhirnya aku berada di tempat ini, tempat yang selalu aku harapkan tuk kukunjungi. Yah, impianku terwujud. Kali ini aku berada disini, sungguh menyenangkan. Terima kasih kepada orang tuaku, om dan tanteku, yang telah mengizinkan aku berlibur kemari. Semoga saja aku banyak menemukan hal baru disini, termasuk teman.
Den Haag, udara musim semi disini memang tidak terlalu berbeda dengan udara di Indonesia, cukup panas, tetapi angin sejuk bertiup. Tapi ada yang selalu kuinginkan disini, melihat bunga-bunga tulip itu. Bunga-bunga tulip indah yang berwarna-warni. Pemandangan seperti itu tak pernah kulihat di Indonesia. Dan kali ini, impianku terwujud, terima kasih Allah.
Pagi ini, aku berencana untuk berpergian seorang diri. Tapi karena aku tak bisa berbahasa Belanda, aku tak akan pergi terlalu jauh dari rumah tanteku ini. Aku hanya akan berjalan-jalan di taman yang ada di dekat jalan ini.
Aku sudah siap dengan hari baruku di kota ini. Aku turun dari kamar Asell yang kupakai sementara waktu selama aku disini. Asell adalah sepupuku, ia berusia sekitar 13 tahun, memang cukup jauh berbeda dengan usiaku. Tapi dia menyenangkan. Kami menggunakan bahasa Inggris untuk bercakap-cakap, sehingga hubungan kami menjadi lebih dekat.
Om Dirk, Tante Santy, Asell, dan Dennis telah berkumpul di meja makan untuk menyantap sarapan. Roti gandum, telur mata sapi, kentang goreng, dan beberapa gelas susu, telah tersaji di atas meja.
”Selamat pagi, Velli?” sapa Om Dirk padaku, logat bulenya masih sangat kental, meskipun cukup lancar berbahasa Indonesia.
”Selamat pagi!”
”Bagaimana tidurmu, nyenyak tidak?” tanya Tante Santy, adik ayahku.
”Ya, perjalanan kemari membuatku sangat lelah!”
”Ini perjalanan pertamamu, bukan?” tanya Tante Santy lagi.
”Ya, sungguh sangat menyenangkan bisa berada disini! Makasih banyak Tante, Om, semuanya!”
”Nikmati harimu selama disini! Tetapi maafkan Tante, kami tak bisa banyak menemanimu selama liburanmu.”
”Tak apa, tante! Aku sudah dewasa, aku bisa berjalan-jalan seorang diri disini!”
”Ayo kita sarapan dulu!” ajak Tante.
Aku mengambil kursi di sebelah Dennis, sepupuku yang berusia 6 tahun. Ia telah siap untuk pergi ke sekolahnya, begitu pula dengan Asell, yang duduk dihadapanku. Rambutnya yang panjang bergelombang, diikatnya dengan rapi, membuatnya terlihat cantik.
Sebuah piring keramik putih tertata didepan mataku. Tante Santy meletakkan sandwich telur mata sapi diatasnya. Ya, ini adalah sarapan pertamaku disini. Mungkin akan terasa mengenyangkan, meskipun aku tak terbiasa menyantap sarapan dengan roti. Nasi adalah makanan terbaik bagiku.
Kuhabiskan sandwichku dengan beberapa gigitan saja. Dihadapanku masih ada setumpuk kentang goreng kesukaan Dennis. Aku bisa saja mengambil kentang-kentang itu, karena perutku belum puas dengan sandwich tadi. Jadi, kuambil beberapa potong kentang goreng untuk mengenyangkan perutku.
Semuanya telah selesai menyantap sarapan pagi. Pagi yang sibuk. Setelah itu, mereka semua pergi menuju tempat tujuannya masing-masing. Om Dirk pergi ke tempat kerjanya di Rotterdam, bersama Asell. Sedangkan Tante Santy akan pergi mengajar di salah satu TK di Leiden. Dennis juga akan bersekolah di sekitar kawasan Leiden di Maaldrift.
Semuanya telah pergi sesuai dengan aktivitasnya sehari-hari. Dan aku sendiri di rumah besar ini. Aku menyalakan tv di ruang keluarga yang cukup luas. Ahh...aku tak mengerti bahasa yang mereka gunakan, tidak chanel yang memakai bahasa Inggris disini. Ada sebenarnya, tapi acaranya kurang menarik. Apa yang akan kulakukan hari ini?
Bagaimana kalau sekarang saja aku berjalan-jalan di taman itu. Mungkin tidak akan banyak orang, karena hari ini bukan hari libur. Baiklah aku akan pergi ke Zuiderpark. Lagipula taman itu tidak terlalu jauh dari sini. Hanya cukup berjalan lurus mengikuti jalan besar depan rumah ini, dan aku akan tiba disana. Baiklah, aku akan mengambil kamera digitalku. Yeah, I’m ready!!!
***

No comments:
Post a Comment